The Number Three

I'm not talking about kids, mind you :p. I'm talking about the third pillar of Islam. The compulsory charity or known as zakat. Duh serius amat ya!

image credit: zakatit.com


Karena bulan puasa kemaren sibuk hitung-hitung zakat, jadi kepikiran untuk nulis ini. Urusan zakat ini selalu bikin bingung dan nggak pede, sih. Takut salah hitung (ART perlu dikasih zakat nggak? Apa THR aja cukup? THR enggak bisa dihitung zakat, kan?). Takut kurang dari yang diwajibkan. Takut masih ada yang belum dimasukin ke daftar wajib zakat. Apalagi ada paham yang berbeda kan, ada yang jumlah seluruh tabungannya diwajibkan zakat 2.5%. Ada yang hanya pertambahan pada tahun itu aja yang wajib zakat, bukan dari totalnya. Bingung, deh. Dan karena menghitungnya setahun sekali, kadang suka lupa lagi pas tahun depannya. Jadi setiap tahun memang kaya belajar lagi sih, cari-cari info lagi. Kemaren aja ada beberapa hal baru yang memang saya baru tahu. Mungkin untuk selanjutnya mau coba pakai jasa penghitung zakat, biasanya financial planner punya jasa ini. Pastinya mereka lebih tahu kan, dan juga jadi ada acuan untuk ditanya-tanya.

Selain bingung menghitung, yang bikin bingung juga, mau dikasih ke siapa aja zakatnya? Dulu saya mau tau beres aja sih. Semuanya dikasih ke nyokap biar nyokap yang bagi-bagiin. Orang tua biasanya kan punya daftar yang lebih panjang tuh siapa aja yang berhak dapet bagian. Mereka juga lebih rajin untuk kasih ke orangnya langsung. Tapi lama-lama ngerasa kok kayanya ignorant sekali ya. Lagipula nyokap kan juga manusia, bukan nggak mungkin ada salahnya juga dalam urusan ini. Dan memang sebaiknya kan kalo memberi sesuatu itu langsung aja ke orangnya. Duh trenyuh banget pasti kan ketika yang diberi itu sangat menghargai pemberian kita dan berterima kasih berkali-kali sambil mengucapkan doa untuk kita. Cuma yaa tetep aja bingung siapa aja orang yang berhak, dilihatnya dari mana, carinya di mana? Iya iya banyak sih orang yang hidupnya susah. Tapi nggak kebayang aja kalo harus ke daerah kumuh dan bagi-bagiin, bisa-bisa diserbu orang sekampung, kan?

Jadi setelah itu saya mencoba untuk ngurusin sendiri dan pake sistem 'don't put your eggs in one basket'. Sama lah seperti investasi, sebaiknya jangan di satu instrumen aja, kan. Well this one is an investment too, another kind of investment, jadi treatmentnya kurang lebih sama.

Masih ada sih yang didistribusiin lewat nyokap, lewat ibu mertua. Tapi ada juga yang dititip lewat semacam Dompet Dhuafa dan Rumah Yatim yang tinggal transfer (tetep cari gampangnya!). Ada yang ikutan nyumbang pas kakak ipar lagi ngajak anak-anak yatim piatu buka puasa bersama. Trus ada juga yang ke satu pondok pesantren. Ada yang lewat masjid Al-Ikhlas juga. Enak juga sih kalo lewat masjid yang lebih terorganisir, karena datanya lengkap. Pas serah terima juga kita disuruh baca niat dan doa. Jadi merasa lebih secure aja. Apalagi, yah? Oh paling bagi-bagi rejeki juga sama orang-orang (pemulung, dll) yang ditemuin di jalan. Tapi bukan pemulung jadi-jadian yang jumlahnya tau-tau membludak kalo bulan puasa. Bedainnya gimana? Biasanya sih yang bener pemulung adanya di kompleks-kompleks rumah dan memang lagi kerja, bukan duduk-duduk di pinggir jalan sekeluarga. Trus juga kelihatan pas kita kasih biasanya yang pemulung beneran akan kaget dan menerimanya dengan suka cita. Kalo pemulung jadi-jadian biasanya pas nerima hanya bilang makasih dan tetep dengan memasang muka susah/sedihnya :D. Selain itu, paling kasih lebih ke orang-orang seperti satpam atau tukang parkir atau siapapun yang membantu saya pada saat itu.

Kesannya banyak yah? Padahal sih jumlahnya seadanya :D. Tujuannya sih biar kalau ada yang saya salah kaprah, ternyata orang yang dikasih itu bukan termasuk orang yang berhak menerima zakat, ya nggak fatal-fatal amat jadinya, karena mudah-mudahan yang lain bisa menutupi.

Tahun ini, saya pake kalkulator zakat yang ada di sini. Berguna banget deh, tinggal masukin angka-angka yang diminta, dan dihitungin sama kalkulatornya untuk semua jenis. Dari mulai zakat harta, zakat profesi sampe zakat harta usaha. Saya baru tahu, ternyata untuk zakat profesi, sebenernya yang kena 2.5% itu hanya jumlah uang setelah dipotong kebutuhan rutin, yah?. Dalam rangka mencari aman, saya pilih untuk nggak dipotong kebutuhan rutin, sih. Lagipula udah blur juga lama-lama mana yang penting mana yang kurang penting :D. Ketika keinginan sudah menjadi kebutuhan, judulnya. Lagipula juga karena masih kurang mantep ngitungnya, mendingan dilebih-lebihin dikit lah untuk jaga-jaga, kan.

Trus tahun ini yang baru untuk saya adalah zakat harta usaha. Duarr! Padahal udah punya usaha dari 2009 yaa. Eh tapi kalo tahun lalu bingung juga sih hitung-hitungan asset perusahaannya. Tahun ini karena udah pernah divaluasi, jadi tau deh. Nilai ini dihitung dari uang tunai yang ada di perusahaan, alat produksi, inventori, dll yang dikurangin jumlah hutang dan dikalikan dengan persentase kepemilikan kita di perusahaan tersebut. Alhamdulillah nggak ada hutang :D *penting!*, tapi jumlahnya memang jadi besar. Apalagi sebenernya uangnya nggak ada di kita, kan? Jadi harus dialokasikan dari dana yang lain.Trus tahun ini juga ada hitungan reksadana yang saya nggak terlalu mengikuti kenaikan dan kerugiannya. Jadi harus cek-cek dulu waktu pertama kali beli nilainya berapa dan sekarang udah berapa.

Yah begitulah kurang lebih cerita urusan zakat ini. Mudah-mudahan sih udah di jalan yang bener yah :D. Makanya kadang penasaran sih bagaimana orang lain membagikan zakatnya. Mungkin ada cara-cara lain yang lebih efektif dan efisien?. Maklum lah, masih perlu belajar banyak, nih. Untuk ke depannya, pengennya sih nggak nunggu sampe bulan puasa lagi. Paling enggak setiap tiga bulan sekali dihitung dan dibagikan. Supaya enak nggak punya hutang yang menumpuk. Dan pengennya juga nggak 2.5% lebih sedikit aja...tapi harus bisa paling enggak 5%. Amiiiin!.


Share this:

, ,

CONVERSATION

2 comments:

  1. Gue bingung juga sih sebenernya "zakat penghasilan" itu ada ga sih di al quran/hadist. Yang ada kan sebenernya zakat harta/ maal. Tapi krn tampaknya udah umum di indo ada zakat penghasilan, jadi seperti kata lo, drpd kurang zakat, mending diikutin aja. Kalo gue, zakat penghasilan 2.5% gue bayarin tiap bulan abis gajian. Selama ini sih masih dikirim ke yayasan2 di indo. Trus setahun sekali, abis idul fitri, gue bayarin yang total harta 2.5%.
    Yg zakat maal ini, kemarin2 selalu dibagi2 juga. Ada yg transfer ke yayasan2, ada yg kita ksh langsung ke panti asuhan deket rumah.
    Btw han, kalo lo, rumah yang lo tempatin skrg lo zakatin ga? Gue bingung soalnya slm ini kan tanah gue di jkt gue zakatin. Nah kalo insya Allah jd beli rumah disini, trus gue kudu zakatin ga ya? Katanya kalo ditempatin (apalagi msh mgutang) gak usah.



    ReplyDelete
  2. Mungkin itu hanya supaya ngitungnya lebih gampang kali ya Rik? Kan lebih enak tuh ngitungnya antara uang dari profesi (penghasilan bulanan yang tetap) sama dari penghasilan yang lain (hasil jual rumah misalnya).

    Kalo gue rumah yang sekarang ditempatin nggak dizakatin sih, karena kan kalo rumah tinggal emang nggak harus dizakatin. Lagian agak bingung juga ngitungnya karena rumah gue kan satu tanah sama rumah nyokap. Tanahnya milik nyokap, bangunannya milik gue, nggak jelas jadi harganya berapa :D.

    Elo waktu beli tanah itu with the intention of selling it nggak? Emang untuk investasi? Katanya kan kalo bukan untuk dijual lagi nggak perlu dizakatin sebenernya. Kalo rumah masih ada mortgage juga nggak harus dizakatin kok karena technically itu kan masih bukan milik elo.

    Bingung yahh!

    ReplyDelete